19 August 2011

Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan :

Jabar Bisa Lebih Maju 
Dan Terdepan Disegala Bidang

Bandung, INA-INA.
     Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan menyampaikan apresiasi dan ungkapan terima kasih kepada semua pihak yang sudah bersama membangun Jawa Barat. Diharapkan dengan semangat Peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia (HUT RI) ke-66 dan Hari Jadi Provinsi Jawa Barat ke-66, semakin memperkokoh komitmen untuk bersama melanjutkan berbagai langkah pembangunan di segala bidang. Semua itu guna mewujudkan Visi Pembangunan Jawa Barat Tahun 2025, yaitu “Dengan Iman dan Taqwa, Jawa Barat Sebagai Provinsi Termaju di Indonesia.
     Pembangunan Jawa Barat sudah dalam posisi on the right track dengan mengarah pada kondisi yang lebih baik. Untuk itu saya mengajak seluruh masyarakat Jawa Barat untuk bertekad dan yakni bahwa Jawa Barat bisa lebih maju lagi. Mewujudkan Jawa Barat yang mandiri dinamis dan sejahtera, dengan didukung semangat tinggi melalui unjuk karya dan prestasi tiada henti,” tegas Gubernur di hadapan ratusan peserta Upacara Puncak Peringatan HUT RI ke-66 Tingkat Provinsi Jawa Barat, di Lapangan Gasibu, Rabu (17/8) pagi.
     Gubernur, lebih lanjut mengungkapkan Peringatan HUT RI tahun ini terasa berbeda karena lebih spesial karena tahun ini peringatan dilaksanakan bertepatan dengan hari ke-17 Bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan rahmat dan ampunan.
      Selain itu, pada bulan ini juga, untuk pertama kalinya Provinsi Jawa Barat memperingati Hari Jadinya yang ke-66, yakni pada tanggal 19 Agustus sehingga semua keistimewaan itu diharapkan semakin meyakinkan kita untuk terus bertekad membawa Jawa Barat lebih maju dan terdepan di segala bidang. Khususnya difokuskan pada Visi Pembangunan Jawa Barat 2008-2013, yakni tercapainya Masyarakat Jawa Barat yang Mandiri, Dinamis dan Sejahtera.
Gubernur, lebih lanjut memaparkan sejumlah kemajuan dan prestasi yang berhasil diraih Provinsi Jawa Barat. Diantaranya pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2011 yang mengalami peningkatan 0,65 poin, yaitu 71,64 pada tahun 2010 menjadi 72,29 pada tahun 2011. Laju Pertumbuhan Ekonomi (LPE) tahun 2010 mencapai 6,09 persen meningkat 1,91 persen dari tahun 2009 sebesar 4,19 persen atau menyamai rata-rata LPE Nasional sebesar 6,1 persen. Menekan angka pengangguran sebesar 0,63 persen dari 10,96 persen pada tahun 2009 menjadi 10,33 persen pada tahun 2010.
    Begitupun dengan pembangunan infrastruktur melalui upaya peningkatan kualitas jalan, pembangunan jembatan dan pemeliharaan jalan maka kondisi kemantapan jalan provinsi meningkat menjadi 92,8 persen pada tahun 2010. Diharapkan dengan dukungan dan kesungguhan semua pihak, pada akhir tahun 2011 kondisi kemantapan jalan provinsi bias mencapai 95 persen dari total bentang jalan provinsi sepanjang 2.199,18 kilometer. Demikian juga dengan Program “Jabar Caang 2010” yang berhasil diselesaikan 100 persen.
     Di sisi lain, pembangunan infrastruktur lain diantaranya Jalan Tol Cileunyi Sumedang Dawuan (Cisumdawu) dan Soreang Pasir Koja (Soroja), Bandara Internasional Kertajati di Majalengka dan Waduk Jatigede di Sumedang. “Semuanya itu insya Allah akan terus kita dorong untuk segera dibangun. Cisumdawu dan Soroja akan dimulai fisiknya pada akhir tahun 2011, begitupun dengan Waduk Jatigede. Sedangakan Bandara Kertajati terus dalam proses pembebasan lahan.
    Sejumlah prestasi dan penghargaan pembangunan pun disabet Provinsi Jawa Barat, diantaranya dari Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) yang memberikan penghargaan kepada Balai Layanan Pengadaan Barang/Jasa Secara Elektronik (LPSE) Provinsi Jawa Barat terbaik Nasional. Sebagai provinsi terbaik dalam hal integritas pelayanan publik dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Juara Umum MTQ Tingkat Nasional XXIII tahun 2010. Penghargaan Manggala Karya Lencana dari BKKBN Pusat, Ksatria Bakti Husada Kartika dari Menkes, Adibakti Mina Bahari dari Menteri Kelautan dan Perikanan dan Penghargaan Pertanian dari Presiden Republik Indonesia.
     “Masih banyak sederet penghargaan yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Semuanya itu merupakan wujud pengakuan Pemerintah Pusat dan bangsa Indonesia atas kerja keras Pemerintah Provinsi dan masyarakat Jawa Barat. Semuanya itu patut kita syukuri dengan cara mempertahankan prestasi bahkan meningkatkan lagi pada tahun-tahun ke depan. Mudah-mudahan langkah dan niat kita ini mendapat ridho dari Allah SWT serta dukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat Jawa Barat.Tim R

Rektor Unpar, Dr. Cecilia Lauw


Mengingatkan Kembali Cita-Cita Kemerdekaan RI


Bandung, INA-INA.
Dr. Cecilia Lauw ketika berpidato pada HUT Kemerdekaan RI Ke 66
    Civitas Akademika Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) melaksanakan Upacara Bendera dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 66, Rabu, 17 Agustus 2011, bertempat di kampus UNPAR, Jl. Ciumbuleuit No. 94 Bandung. Pada kesempatan tersebut, Rektor Unpar Dr. Cecilia Lauw bertindak selaku Inspektur Upacara.
Upacara peringatan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI berlangsung khidmat. Pengibaran bendera merah putih dilakukan oleh pasukan pengibar bendera (Paskibra) Unpar dan sukses mengibarkan bendera.
      Rektor Unpar, Dr. Cecilia Lauw dalam pidatonya mengatakan sudah 66 tahun Indonesia Merdeka, negeri ini sudah banyak mengalami perubahan, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sudah sedemikian maju, kesejahteraan rakyat perlahan tetapi pasti terus meningkat, meskipun belum semua anak bangsa di negeri ini dapat merasakan tingkat kesejahteraan yang didambakan. Kita masih merasa sangat prihatin terhadap terus menerus bermunculannya fakta-fakta baru tentang terjadinya pelanggaran hukum yang dampaknya langsung maupun tidak langsung adalah terganggunya pertumbuhan tingkat kesejahteraan rakyat Indonesia. Kesedihan lebih tarasa dihati kita apabila kecurangan dan kejahatan justru dilakukan oleh para tokoh yang seharusnya menjadi contoh tauladan perilaku baik bagi rakyat Indonesia.
      Setiap tahun kita mendengar dan ikut menyanyikan dengan penuh semangat, lagu yang sungguh indah dan menyentuh lubuk hati, simakalah syairnya, 17 Agustus tahun 45, itulah hari kemerdekaan kita, hari merdeka nusa dan bangsa, hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka, Merdeka, sekali Merdeka Tetap Merdeka, selama hayat masih dikandung badan, kita akan tetap setia, tetap setia, mempertahankan Indonesia. Lagu yang berjudul Hari Merdeka Ciptaan H. Mutahar tadi, selalu di nyanyikan setiap tanggal 17 Agustus dengan penuh semangat, oleh kepercayaan yang berbeda-beda, berbagai suku adat, pemeluk agama di Indonesia. Setiap tanggal 17 Agustus kita mengingat kembali cita-cita kemerdekaan dan mempertaruhi janji setia untuk mewujudkan kemerdekaan itu secara nyata dalam arti yang sesungguhnya dan sedalam-dalamnya bagi bangsa dan negara Indonesia. Bangsa dan negara yanbg merdeka, masa kini berarti bangsa dan negara yang bebas dalam menyumbang, dan berdiri sama tinggi, sama rendah dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
       Menurut Rektor Unpar bahwa Bung Karno memaknai kemerdekaan sebagai bebas dari rasa takut, termasuk takut menggunakan hati nurani dalam menjalani hidup, takut mengatakan mana yang benar dan mana yang sudah menurut pendapat pribadi kita masing-masing, proses diskusi guna merangkum pendapat yang berbeda-beda, memang seharusnya diungkapkan dengan cara yang berbudaya bukan dengan kekerasan atau pemaksaan supaya dapat mecapai kesepakatan pendapat. Rasa takut atau rasa tidak bebas dalam menyatakan pendapat akan menyebabkan proses diskusi dalam mencapai kesepakatan mana yang benar dan mana yang salah menjadi terhenti. Akibatnya langsung terasa adalah tiadanya kesatuan dan persatuan yang apabila dibiarkan semakin lama akan makin menggerogoti kesatuan bangsa dan negara Indonesia. Kesatuan dan persatuan yang dicita-citakan oleh pendiri Negara Kesatuan Republik Indonesia, mari kita merenung sejenak, sebesar apa cinta kita pada bangsa dan tanah air Indonesia. Apakah perbuatan yang kita lakukan sehari-hari guna membuat cinta itu menjadi nyata, yang kita lakukan setiap hari supaya cinta kepada bangsa dan Negara Indonesia tidak merupakan sesuatu yang abstrak lagi.
       Cinta harus diwujudkan dengan perbuatan jangan hanya diungkapkan dengan kata-kata, maka mari kita mengungkapkan rasa cinta kepada bangsa dan tanah air Indonesia dalam hidup keseharian kita dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab kita sehari-hari dengan dipandu Sesanti yang ditetapkan oleh para pendiri Unpar Bakuning Hyang Nrih Guna Santyaya Bhakti, Berdasarkan Ketuhanan Menuntut Ilmu Untuk Dibaktikan Kepada Masyarakat, bukan kepada diri kita sendiri.
       Maka kepada para pimpinan dan seluruh warga Universitas Katolik Parahyangan Rektor Unpar menyerukan, mari kita membina dan memelihara suasana Akademi Kampus Unpar agar terus meningkat lebih baik dan lebih baik lagi, para dosen dapat terus meningkatkan ilmunya agar mutu ilmu yang akan disalurkannya kepada para mahasiswa pun terus meningkat sesuai dengan tuntutan zaman. Para mahasiswa harus gebyar dengan giat dan sungguh-sungguh agar kelak dapat sukses dimasyarakat bukan hanya sebagai pencari pekerjaan bagi dirinya akan tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja yang dapat menghidupi banyak sesama.
      Pada kesempatan tersebut Rektor Unpar memberikan penghargaan khusus bagi LKM Unpar 2010-2011 atas prakarsanya membuat MONUMEN CINTA KAMPUS yang diresmikan pada tanggal 17 Februari 2011 yang lalu. Sebagai bentuk wujud nyata mereka menunjukkan cintanya kepada UNPAR, almaaternya dengan mengingat baik-baik pesan dari para pendiri Unpar yaitu untuk "tidak mabuk perkembangan". Penghargaan juga diberikan kepada karyawan dan mahasiswa/i UNPAR yang berprestasi diantaranya adalah Paduan Suara Mahasiswa (PSM) UNPAR, Serta Tim Indonesia Seven Summits Expedition Mahitala UNPAR (ISSEMU) yang menorehkan prestasi menjadi Seven Summiter pertama di Indonesia. Edwandi