26 July 2018

SPPI Tuntut Direksi PT Pos Indonesia Diganti

BANDUNG, indonesia-indonesia.com - Sekitar 150 karyawan PT Pos yang tergabung dalam Serikat Pekerja Pos lndonesia Kuat Bermartabat melakukam aksi unjuk rasa didepan kantor Pos Indonesia Pusat jalan Banda 30 Bandung, Rabu (25/7/2018).

Aksi dimulai pukul 9.30 wib.  Peserta unjuk rasa menuntut jajaran direksi PT Pos Indonesia. Mereka menilai direksi banyak melakukan langkah yang merugikan perusahaan. " Tahun 2017  perusahaan merugi. Kalau rugi laporkan rugi kenapa perusahaan membagikan  bonus buat direksi sebesar 5 miliar ," kata Heri Purwadi kordinator unjuk rasa.
Lebih jauh Heri menjelaskan alasan lain adanya aksi unjuk rasa yakni adanya kebijakan penjualan aset perusahaan seperti Bank Mantap tidak didasarkan pada alasan yang jelas. " Penjualan Bank Mantap alasannya tidak jelas, " ujarnya.

Terkait tuntutan tersebut pihak serikat juga sudah melaporkan ke Kementrian BUMN dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Pada saat yang bersamaan pihak serikat juga menggelar acara diskusi publik mengenai keuangan PT Pos Indonesia di Jakarta.  Hal ini dilakukan untuk membedah lebih dalam mengenai laporan keuangan PT Pos.

Salah satu peserta unjuk rasa Mohammad mengatakan kerja direksi dalam menerbitkan kebijakan tidak transparan. " Sebagai karyawan kami ingin keterbukaan. Karena serikat karyawan ini alat kontrol. Selama ini direksi tidak terbuka. Kalau ada  kritikan juga tidak bersikap terbuka tapi arogansi," jelasnya.

Menurut pihak serikat dalam 3 tahun terakhir direksi dinilai tidak mampu mengelola perusaahan dengan baik.

Peserta aksi unjuk rasa berasal dari perwakilan karyawan PT Pos Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, Tanjung Pinang, Makasar,  Palembang, Padang, Kalimatan, Sumatera Utara dan Denpasar. Heri meminta jumlah direksi tidak gemuk dan harus menempatkan orang orang terbaik dari PT Pos. Jumlah direksi cukup 5 dan untuk direksi harus banyak dari orang orang terbaik PT Pos. Dirutnya harus orang PT Pos. Alasannya harus orang yang mengerti soal dunia pos, " pungkas Heri. @***

No comments:

Post a Comment